Rabu, 04 November 2015


 PERNIKAHAN BEDA AGAMA





















Hasil gambar untuk pernikahan beda agama
Lembaga perkawinan jauh lebih tua daripada agama-agama yang muncul dalam sejarah manusia. Nikah adalah hak azasi manusia, hidup berkeluarga sudah setua manusia, sejak Adam dan Hawa (Kej 1: 27-29), dan Agama bisa mengaturnya, tetapi Agama juga tetap menghormati hak-hak azasi manusia yang dianugerahkan oleh Allah sendiri.
Dalam hal perkawinan campur, dibedakan dua: Beda Gereja dan Beda Agama. Dan di sini anda mengacu pada beda agama (keyakinan). Singkatnya, menurut anda, Gereja-gereja Protestan melarang perkawinan orang beriman kepada Kristus dengan orang yang tak beriman kepada Kristus, sedang Katolik, memperbolehkan ! Begitu ?
Kalau anda berbicara tentang perkawinan umat beriman dengan orang tidak beriman kepada Kristus, janganlah hanya mengacu pada 2 Kor 6:14-15, tetapi juga lihat dan baca 1 Kor 7: 12-16 !  Janganlah membaca dan memahami Alkitab sepotong-sepotong ! Jangan sampai kita mempunyai suatu pandangan tentang perkawinan begini, lalu mencari ayat-ayat Alkitab yang mendukung pandangan kita, sedang yang tidak mendukung tidak kita sebutkan. Kita memperalat Alkitab bukannya kita yang tunduk pada firman !
dari kutipan itu, 2 Kor 6:14-15, itu adalah pedoman normative untuk hidup berkeluarga umat beriman, sedang 1 Kor 7: 12-15, berdasar realitas yang ada atau kasus-kasus dalam perkawinan umat beriman. Kalau kita boleh menangkap, kiranya wajar kalau dalam zaman Gereja Perdana, ada suami yang menerima Yesus sedang istrinya belum dan sebaliknya. Nah pada kasus demikian Paulus memberikan pedomannya, yakni perkawinan semacam itu boleh terus asal…..  Dan perkawinan yang sah menurut Gereja antara yang beriman dan tidak, sejauh memenuhi syarat, sudah ada sejak Gereja zaman para rasul. Jadi kalau Gereja Katolik abad XX ini tetap memberi tempat adanya kawin campur beda agama, sejauh memenuhi syarat, berarti setia pada Alkitab, dan ini sudah berjalan 20 abad.
Gereja lalu mengaturnya dalam Kitab Gereja Katolik (KGK) atau Kanonik. Dalam KGK tentang perkawinan orang katolik dengan orang yang tidak dibaptis terdapat pada kanon no. 1086 #1 dan # 2, bunyinya: #1 “Perkawinan antara dua orang, yang di antaranya satu dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima di dalamnya dan tidak meninggalkannya secara resmi, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah.”    Sedang #2, berbunyi: “Dari halangan itu janganlah diberikan dispensasi, sebelum dipenuhi syarat-syarat yang disebut dalam kan. 1125 dan 1126”.  Lalu apa saja syarat-syaratnya ?
Kan. 1125 berbunyi: “Izin semacam itu dapat diberikan oleh Ordinaris wilayah, jika terdapat alasan yang wajar dan masuk akal; izin itu jangan diberikan jika belum terpenuhi syarat-syarat berikut:
1* pihak katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberi janji dengan jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik di dalam Gereja Katolik. 
2* mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak katolik itu pihak lain hendaknya diberi tahu pada waktunya, sedemikian sehingga jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak katolik; 
3* kedua pihak hendaknya diberi penjelasan mengenai tujuan-tujuan serta sifat-sifat hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya”.
Kan. 1126, berbunyi: “Adalah tugas Konferensi Waligereja untuk menentukan baik cara pernyataan dan janji yang selalu dituntut itu, harus dibuat, maupun cara bagaimana hal-hal itu jelas dalam tata-lahir, serta bagaimana pihak tidak katolik diberitahu”.
Dan sifat hakiki perkawinan kristiani, yaitu :”monogami” dan “tidak terceraikan”.    Kalau Claudia benar-benar membaca dan memahaminya ketentuan Gereja Katolik tentang perkawinan campur beda agama, yang sudah berlaku berabad-abad itu, tidak akan dengan mudah mengatakan, perkawinan semacam itu adalah suatu “tindakan yang “mengkhianati” iman kepada Kristus”!!!



Saya Antonius Didi Setyadi yang dulunya lahir dalam pernikahan beda agama , anak dari Kristina Triharyani, dan Martono yang dulunya muslim dan setelah menikah dengan ibu saya, beliau tetap menjalankan agama nya yang berbeda dengan ibu saya.  Ayah dan ibu saya menikah secara dispensasi yaitu boleh melakukan menikah beda agama, tapi dalam diri ayah saya berkecamuk pikiran- pikiran tentang bagaimana nantinya kedepan anak-anak nya, maka ayah saya termenung dan itu cukup lama, memakan waktu sampai 5 tahun hingga ayah saya memutuskan untuk mengikuti kepercyaan ibu saya. Karena beliau berpikir. “jika dalam satu Perahu ada 2 dek nahkoda maka perahu itu tidak akan bisa berjalan.” Jadi ayah saya melihat ibu saya yang menjalankan agama nya dengan penuh keyakinan ingin mengikuti jalan hidupnya. Maka saat saya berusia 5 tahun dan akan masuk SD ayah saya juga msuk ke agama ibu saya. Karena juga negara kita sungguh luar biasa, sulit sekali untuk menikah beda agama di negara ini, saat mengurus surat- menyurat di negara, orang yang menikah beda agama, akan cenderung dikucilkan dan cenderung diabaikan .

Teman- teman, pesan ayah saya yaitu : “agama bukan untuk di perdebatkan tapi untuk dijalankan, karena Tuhan sendiri tidak akan senang jika Ia di jadikan bahan untuk berdebat”. 

Akan lebih indah jika toleransi itu ada, dan saat imanmu dewasa, maka tidak ada lagi kata FANATIK ke agamamu atau keyakinanmu. Fanatik boleh kedalam dirimu, tapi jangan fanatik keluar..........

Senin, 02 November 2015

Pada suatu hari, seorang Ayah pulang dari bekerja pukul  21.00 malam. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu  sangat melelahkan baginya. Sesampainya di rumah ia mendapati anaknya yang berusia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah.  Sepertinya ia sudah menunggu lama.
“Kok belum tidur?” sapa sang Ayah pada anaknya.
Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja,  dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di pagi hari.
“Aku menunggu Papa pulang, karena aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”, kata sang anak.
“Lho, tumben, kok nanya gaji Papa segala? Kamu mau minta  uang lagi ya?”, jawab sang ayah.
“Ah, nggak pa, aku sekedar..pengin tahu aja…” kata anaknya
.
“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000. Setiap bulan  rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji Papa satu bulan berapa, hayo?!”, tanya sang ayah.
Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman.
Ketika sang Ayah ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak mengikutinya.

“Jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong!”
“Kamu pinter, sekarang tidur ya..sudah malam!”
Tapi sang anak tidak mau beranjak. “Papa, aku boleh pinjam uang Rp 10.000 nggak?”
“Sudah malam nak, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah, besok pagi saja. Sekarang kamu tidur”
“Tapi papa..”
“Sudah, sekarang tidur” suara sang Ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya.
Sang Ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang terisak-isak sambil memegang uang Rp 30.000.
Sambil mengelus kepala sang anak, Papanya berkata  “Maafin Papa ya! Kenapa kamu minta uang malam-malam begini.. Besok kan masih bisa. Jangankan Rp.10.000, lebih dari itu  juga boleh. Kamu mau pakai buat beli mainan khan?”
“Papa, aku ngga minta uang. Aku pinjam…nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajanku.”
“Iya..iya..tapi buat apa??” tanya sang Papa.
“Aku menunggu Papa pulang hari ini dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Satu jam saja pa, aku mohon. Mama sering bilang, kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, tapi cuma ada uang Rp 30.000. Tadi Papa bilang, untuk satu jam Papa dibayar Rp 40.000.. Karena uang tabunganku hanya Rp.30.000,- dan itu tidak cukup, aku mau pinjam Rp 10.000 dari Papa” Sang Papa cuma terdiam.
Ia kehilangan kata-kata. Ia pun memeluk erat anak kecil itu sambil menangis. Mendengar perkataan anaknya, sang Papa langsung terdiam, ia seketika terenyuh, kehilangan kata-kata dan menangis..
Ia lalu segera merangkul sang anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta maaf pada sang anak..
“Maafkan Papa sayang…” ujar sang Papa.
“Papa telah khilaf, selama ini Papa lupa untuk apa Papa  bekerja keras. Maafkan Papa anakku” kata sang Papa ditengah suara tangisnya.
Si anak hanya diam membisu dalam dekapan sang Papanya.

==========

Mungkin sebagian dari kita akan terenyuh saat membaca cerita di atas tadi. Seorang anak yang sangat ingin didampingi oleh orang tuanya walau hanya satu jam saja. Hmmmmmm mungkin sebagian dari kita merasa sibuk, entah sibuk belajar, bekerja atau hanya bermain kah ????

Sekarang saya merefleksikan anak kecil itu adalah Tuhan kita semua, Allah kita. Kita sering kali melupakan dia yang memberi kita hidup. Hingga kita untuk bercengkrama saja dengan-Nya lewat doa sangat2 susah karena kesibukan kita.


jadi saudaraku, marilah kita renungkan bacaan tadi dan refleksikan dalam kehidupan kita

Kisah Si Ayam dan Si Babi

Alkisah, ada dua binatang yang berteman akrab sejak kecil, yaitu si ayam dan si babi. Mereka selalu berjalan berdua kemanapun mereka pergi. Pada suatu hari, ketika mereka berjalan melewati hutan belantara yang jauh dari keramaian kota , mereka menemukan seorang laki-laki yang hampir mati.
Si ayam berkata: “Eh, bie! liat tuh! Kayaknya ada orang sedang berbaring didepan!”
Si babi : “Iya, yam! Gue juga… liat. Kayaknya dia sedang sekarat. Yuk kita deketin.”
Mereka melihat dari dekat, dan laki-laki itu dengan lemah berkata : “Tolong aku, aku lapar dan tidak punya makanan”
Lalu si ayam berkata kepada babi : “Eh, kasihan deh. Bie, yuk kita tolong dia.”
Sahut si babi : “Tapi gimana yam ? Kita kan nggak bawa bekal apa-apa ?”
Si ayam berkata : “Ya sudah, apa yang ada pada diri kita saja kita olah menjadi makanan, setuju?”
Babi mengangguk : “Baiklah, kalau itu bisa menyelamatkan nyawa orang itu, saya bersedia.”
Singkat cerita, mereka masing-masing memberikan bagian diri mereka, mengolahnya menjadi makanan dan memberikan kepada laki-laki tersebut. Ia sangat berterimakasih, kesehatannya telah pulih dan ia melanjutkan perjalanannya. Si ayam dan si babi pun melanjutkan perjalanannya berdua.
Si ayam berkata : “Senang yach, rasanya, kita bisa menjadi berguna untuk orang lain….”
Si babi membalas : “Iya sih, aku juga senang. tapi kamu jalannya jangan cepat-cepat yam, aku tadi memberikan satu kakiku untuk menjadi makanannya, kamu sih enak, bisa bertelur….”
Cerita diatas menggambarkan 2 tipe dalam memberi, yaitu memberi dalam kelimpahan dan memberi dalam kekurangan. Sifat ini dapat kita refleksikan dalam diri kita, yaitu ketika kita memberikan persembahan dalam gereja, boleh ditanyakan dalam diri kita sendiri: “Apakah saya merasa sudah memberikan yang terbaik untuk Tuhan?” Biarlah hati nurani masing-masing yang menjawabnya.
Saya jadi ingat, ketika Tuhan Yesus memperhatikan orang-orang yang memberi persembahan. Orang-orang kaya memberi persembahan dari kelimpahannya, Tetapi seorang janda miskin memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya. (Lukas 21:4). Orang yang memberikan dari kelimpahannya memberi sedikit bagian untuk Tuhan Dan sisa bagian yang jauh lebih banyak untuk dirinya sendiri, sedangkan si janda miskin memberikan seluruh bagiannya untuk Tuhan dan tidak ada bagian untuk dirinya sendiri. Itulah sebuah kenyataan, bahwa setiap orang memiliki kasih yang berbeda untuk Tuhan kita.
Kehendak Tuhan adalah supaya kita mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita.
Tuhan memang tidak butuh harta kita. Ia adalah pemilik surga dan bumi. Jika Ia mau, Ia bisa mengambil semua harta kita. Tuhan menginginkan hati kita, supaya kita berserah kepadaNya. Namun hal ini tidak akan terjadi sepenuhnya sebelum hati kita masih menyayangi harta duniawi. Alkitab berkata : “Dimana hartamu berada, disitu pula hatimu berada” (Mat 6:21).
Dimana hartamu berada, disitu pula hatimu berada.

Air Yang Pahit

Ada seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang menghadapi masalah.

Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengar dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu mengambil segelas air.

Ditaburkanlah serbuk pahit itu ke dlm gelas & diaduk perlahan,

”Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya?” Ujar pak tua
“Pahit sekali.....” Jawab pemuda itu.



Pak tua itu tersenyum, mengajak pemuda itu utk berjalan ke tepi danau di belakang rumahnya.

Mereka berjalan berdampingan & akhirnya sampailah mereka berdua ke tepi danau yg tenang itu.

Sesampai disana, pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke danau itu dan dgn sepotong kayu ia mengaduknya,
“Coba ambir air dari danau itu & minumlah”


Saat si pemuda mereguk air itu, pak tua bertanya lag, “Bagaimana rasanya...?”
“Segar....” sahut si pemuda....

" Apakah kamu merasakan pahit di dlm air itu?" Tanya pak tua itu
" Tidak...." Sahut pemuda itu.

Pak tua itu tertawa sambil berkata

"Anak muda..."
Dengarkan baik2, pahitnya kehidupan sama sperti segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama & mmg akan tetap sama.

Tapi "INGAT.." kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yg kita miliki.

* Jadi saat kita merasakan kepahitan & kegagalan dlm hidup, hanya ada satu yg kita dapat lakukan:

“Luaskan & perbesar kapasitas hatimu utk menampung setiap kepahitan itu” Hati kita adalah wadah itu.

Jgn jadikan hati kita seperti gelas, tapi buatlah hati kita seperti danau yg besar & mampu menampung setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.......

mari bersatu menuju dunia baru yang damai dalam perbedaan

Kisah Seorang Mahatma Gandhi


Pasukan Inggris sebagai salah satu tentara terkuat dan disegani dunia, kala itu harus ditarik mundur dari India hanya karena kekuatan cinta seorang manusia kurus kering, berbaju sangat sederhana, dan memakan apa yang dimakan sebagian besar rakyatnya. Beliau adalah Mohandas Karamchand Gandhi, atau biasa dikenal dengan Mahatma Gandhi (Jiwa yang agung).



Sebagai seorang pengacara kenamaan, Gandhi seharusnya bisa menikmati kehidupan yang sangat nyaman di Afrika Selatan. Namun perlakuan yang dialaminya sebagai warga kelas dua disana, membuat ia selalu terbayang akan nasib bangsanya, yang masih hidup di bawah penjajahan Inggris.

Ia pun meninggalkan semua kehidupan mewahnya di Afrika Selatan dan pulang kembali ke negerinya. Ketika turun dari atas kapal, Gandhi disambut hangat oleh rakyatnya. Ia diminta untuk naik ke atas panggung untuk berpidato. Namun, pidatonya begitu singkat : "”Terima kasih atas penyambutan Anda semua,”" kata Gandhi sambil memberikan salam khas bangsa India. Dengan rendah hati ia mengaku, bertahun-tahun meninggalkan negerinya, ia merasa tak tahu akan keadaan bangsanya, jadi tidak mungkin ia bisa berbicara banyak.


Kemudian Gandhi memutuskan untuk tinggal di tengah rakyat India. Sebagai ungkapan swadeshi (kemandirian) ekonomi terhadap penjajahan Inggris, ia menenun sendiri baju yang dikenakannya. Dengan menggunakan kereta api ia pun mulai berkeliling India untuk mengetahui setiap denyut napas yang dihadapi rakyatnya.

Suatu hari Gandhi menemui orang-orang miskin yang begitu banyak. Kepada Gandhi, mereka mengeluhkan kemiskinannya. Uniknya, Gandhi tidak lalu menjanjikan memberikan makanan atau pun uang seperti yang dilakukan politisi lainnya. Yang Gandhi berikan justru sebuah pertanyaan bernada ajakan. Gandhi menanyakan apakah yang harus kita lakukan untuk bisa menjawab semua persoalan yang dihadapi ini.

Gandhi menunjukkan dirinya bukanlah seorang pemimpin yang populis. Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu mengajak dan meyakinkan orang lain untuk berbuat yang terbaik, keluar dari kesulitan hidup, bukan memanfaatkan mereka untuk ajang unjuk kemampuan pribadi. Dengan sikapnya yang tulus, rendah hati dan merakyat, Gandhi pun mendapatkan penghormatan dan kepercayaan dari rakyat India.

Gandhi berjuang selama 30 tahun melawan penjajahan Inggris bersama pemimpin India lainnya. Dengan ajarannya, ahimsa (tanpa kekerasan) serta satyagraha (keteguhan dalam kebenaran), Gandhi melawan penindasan dan kekerasan dengan cinta, kesabaran, dan kerelaan untuk menanggung segala konsekuensinya.

Ketika kemerdekaan India akhirnya diraih pada tahun 1947, kesempatan mendapatkan tampuk kekuasaan pun ada di tangannya. Tapi ia tidak mengambil kesempatan itu. Gandhi menolak jabatan politik yang diberikan kongres kepadanya. Ia malah memilih menghabiskan hidup di ashram yang jauh dari kemegahan dan kenikmatan duniawi. Baginya itu jauh lebih mulia daripada hidup di istana. Menerima jabatan diibaratkannya sebagai memakai "mahkota berduri".

Gandhi adalah seorang Hindu, namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama lain, termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.

Sebagai wujud keyakinannya bahwa Hindu dan Muslim India adalah bersaudara, ia melancarkan mogok makan ketika negeri itu diamuk kerusuhan sektarian Hindu-Muslim pada 13 Januari 1948. Dokter mengatakan bahwa ia harus makan, tapi Gandhi tetap bersikeras untuk puasa hingga tujuh syarat perdamaian yang diajukannya ditandatangani oleh pemimpin kelompok Islam dan Hindu.

Rupanya kedua kelompok itu masih sayang Gandhi. Lewat tengah malam pada 18 Januari, sekretarisnya membangunkan Gandhi yang telah lemas dan menunjukkan perjanjian damai yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Setelah 121 jam 30 menit berpuasa, Gandhi akhirnya mau minum jus jeruk yang disuapkan oleh seorang pemimpin muslim, Maulana Azad.

Bagi Gandhi, jiwa seseorang akan tetap selamat di dunia apabila orang tersebut berjuang demi kebenaran. Dengan kepercayaan itu, Gandhi tetap tidak menyerah meski berbagai halangan dan cobaan menghadang.

Namun ternyata puasa Gandhi hanya bisa menghentikan sementara konflik Muslim dan Hindu India. Berbagai pertikaian antara kedua kelompok ini terjadi kemudian. Banyak orang Hindu yang merasa dikhianati oleh langkah-langkah Gandhi yang mencoba menjadi juru penengah. Ia dinilai terlalu memberi hati kepada Muslim. Akhirnya pada 30 Januari 1948, seorang Hindu nasionalis pun menarik pelatuk pistolnya, dan Gandhi tewas.

Dengan kematian Gandhi, seluruh India berhenti. Konflik sektarian berhenti, pembunuhan massal berhenti. Negara yang baru terbentuk itu goncang merenungkan hakikat kebangsaan dan persaudaraan mereka. Dengan kematiannya, Gandhi berhasil mencapai apa yang ribuan orang India gagal untuk mencapainya selama ini, yaitu: Perdamaian dan Persatuan di India.

Gandhi akhirnya digelari sebagai Bapak Bangsa India. Dunia memujinya sebagai salah satu pemimpin spiritual terbesar sepanjang masa. “Generasi-generasi yang akan datang sulit percaya bahwa ada orang seperti dia yang pernah berjalan di muka bumi ini dalam rupa daging dan darah,” tulis Albert Einstein waktu itu. Prinsip-prinsip Gandhi telah menginspirasi aktivis-aktivis demokrasi dan pejuang anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela.

Gandhi tidak pernah menerima Penghargaan Perdamaian Nobel, meski dia dinominasikan lima kali antara 1937 dan 1948. Beberapa dekade kemudian, hal ini disesali oleh pihak Komite Nobel. Ketika Dalai Lama dianugerahi Penghargaan Nobel pada 1989, ketua umum Komite mengatakan bahwa ini merupakan “Sebuah bentuk mengenang Mahatma Gandhi”.

Karya Mahatma Gandhi tidak terlupakan oleh generasi berikutnya. Cucunya, Arun Gandhi dan Rajmohan Gandhi, serta anak cucunya, Tushar Gandhi, adalah aktivis-aktivis sosio-politik yang terlibat langsung dalam mempromosikan non-kekerasan di seluruh dunia.

"“Mereka yang berjiwa lemah tak akan mampu memberi seuntai maaf tulus. Pemaaf sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh."” (Mahatma Gandhi)